Gajah Mada - The Books Review
July 11th, 2007 by sangsaribayuTidak sedikit pun terbetik di benak saya untuk membeli buku ini saat memasuki toko buku langganan saya yang berpetak sempit namun penuh dengan wadah aksara bermutu. Tadinya saya hanya berminat untuk ‘window shopping’. Tapi entah kenapa cover buku Gajah Mada ini begitu menarik hasrat untuk diambil dari rak yang sesak oleh ratusan judul buku baru. Paling tidak saya hanya mau baca teks yang tercetak di cover belakangnya saja. Buku ini sudah cukup lama saya beli, hanya baru sempat bikin reviewnya sekarang. Tak apalah, karena saya tak perduli kata ‘basi’ kecuali makanan tentunya. “Damai yang senantiasa menyelimuti tiba-tiba terkoyak. Lelap pelukan mimpi tidak mungkin dituntaskan karena genderang perang membangunkan isi kehidupan Majapahit…..Akan tetapi, tetes darah, keringat, dan air mata Gajahmada serta pasukan Bhayangkara akhirnya mampu mengembalikan kehormatan Majapahit dan mempersembahkan kejayaan yang bakal terus dikenang sejarah.” demikian kalimat yang tercetak tersebut. Dan ternyata saya begitu terlambat membeli buku ini. Ternyata sudah terbit lima seri! Karena tak ada kata terlambat untuk mengetahui sesuatu hal maka saya putuskan untuk membeli seri pertamanya. Mungkin ada salah satu dari kalian akan berkata demikian “Hari gini masih baca Gajah Mada!??”. Memang terlihat tak gaul di antara segudang bacaan yang mengupas teknologi canggih dan rupa-rupa gadget terbaru, tetapi harus saya bilang dari awal review ini bahwa saya merasa beruntung menemukan salah satu bacaan memukau mengenai Indonesia di masa lampau di tengah miskinnya keinginan untuk tahu mengenai apa yang telah terjadi di masa Indonesia masih dipimpin para raja. Sejarah adalah dimensi waktu yang membentuk kehidupan sekarang dan masa depan, mengetahui sejarah sama dengan mendengar kakek buyutmu bercerita dengan emosi mendalam lalu diam-diam menyisakan toreh di hatimu mengenai nilai yang bisa kamu petik. Pujian melayang untuk Langit Kresna Hariadi, sang pengarang buku ini. Tidak sering saya menemukan pengemasan kisah sejarah yang begitu apik sampai-sampai saya tak peduli ratusan ton rasa kantuk menggayuti mata saat membacanya. Rasa ingin tahu yang besar telah memperkosa kebutuhan biologis untuk tidur. Sama menariknya saat membaca ‘Da Vinci Code’ yang terkenal itu, si buku best seller dunia. Langit Kresna Hariadi menyajikan konflik demi konflik yang begitu mengaduk-aduk penasaran sehingga lembar demi lembar seakan menuntut mata saya untuk tetap bercinta dengan alphabet di dalamnya. Gajah mada adalah seorang prajurit tangguh, bijaksana, nan berani di masa pemerintahan Jayanegara. Ingatan lama saya kembali saat sekolah dulu, kedigjayaan sang tokoh sentral ini begitu fenomenal sampai terus dibahas di pelajaran sejarah. Sayang yang bisa kita ketahui hanya arcanya saja. Membaca buku ini bak di bawa terbang bertamasya ke masa lampau. Penyajian setting Majapahit yang cukup detil sampai pemilihan istilah dan nama tokohnya yang masih menggunakan gaya asli tempo itu. Memakai nama binatang seperti ‘Gagak Bongol, Singa Parepen, Lembang Laut’, atau nama-nama seperti ‘Ra Kuti, Arya Tadah, Panji Saprang…dll’. Pengupasan tokoh demi tokoh maupun penjabaran budaya masa itu akan membawa benak membentuk sebuah gambaran imajiner mengenai tokoh masing-masing. Cerita perjuangan Gajah Mada yang penuh gejolak, darah dan airmata membuat saya tersadar bahwa itulah apa yang disebut ‘Pengabdian penuh makna’. Beliau tak hanya mengusung tameng untuk menjaga, tak hanya menjadikan badan sebagai perisai istana. Tetapi lebih dari itu semua… Bagaimana sejatinya cara seorang prajurit sejati melindungi sebuah amanat maka itulah Gajah Mada. Sepak terjangnya bukan untuk menaikkan namanya, bukan pula untuk merebut kekuasaan yang bisa dengan mudah dia rebut, bukan pula untuk memuaskan hasrat manusianya. Gajah Mada adalah representasi sebuah teladan sifat seorang pembela negara. Gajah Mada berpikir tidak pernah untuk diri dan anak buyutnya saja. Gajah Mada berpikir global. Menangani serbuan serangan makar bukan perkara mudah. Perkara makar adalah kekuatan alur buku ini. Bagi pembaca yang menyukai cerita penuh konspirasi, maka buku ini sangat memenuhi syarat. Aksi pasukan Bhayangkara juga membuat saya sekilas bangga mengetahui ada prajurit setangguh itu hidup di tanah Indonesia. Kita sebenarnya tak kalah dengan para prajurit Yunani yang tersohor itu. Hanya kelihaian para sinematografer di luar sana juga patut diacungi jempol karena menggambarkan situasi perang jaman Romawi dengan begitu piawai. Sampai kini saya tak lupa dengan gagah nan machonya prajurit Romawi ala Hollywood yang diperani ‘Brad Pitt’ sebagai ‘Achilles’. Pikiran serasa dikayakan akan banyak kejadian penting. Benar adanya, sejarah pasti berulang, cuma mungkin dalam bentuk lain. Perebutan kekuasaan adalah alasan populer mengapa terjadinya perang. Kekuasaan dan wanita. Dua hal yang kerap memabukkan kaum Adam. Dua hal ini dibahas dengan apik sensasional pada buku kedua ‘Bergelut dengan Kemelut Tahta dan Angkara’. Ternyata godaan tahta mampu mengubur cinta dalam-dalam, untuk digali lagi kemudian. Itulah yang terjadi dalam buku keduanya. Ternyata cinta tak mengenal derajat. Cinta yang hebat juga mampu membuat kepura-puraan yang tak kalah hebat. Cinta yang kuat akan mengikis keraguan akan kehilangan kekasih. Cinta yang murni antara dua orang niscaya akan membuat dunia mempertautkan mereka kembali, walau dua orang tersebut dipisahkan oleh keadaan yang tak bisa dibantah ketidakmungkinannya. Ah… membicarakan cinta memang tak ada habisnya. Lebih baik kamu baca saja peliknya perasaan ‘mati menahan rindu’ tokoh-tokoh dalam novel kedua ini. Buku kedua ini juga menyertakan sebuah bonus lansekap kerajaan Majapahit dengan penjelasan denah yang cukup lengkap. Membuat pembacanya bisa mereka reka kronologis peristiwa yang dijabarkan di buku kedua ini. Selamat membaca dan Selamat bertualang dalam kepingan masa lalu sejarah…

